Halaman

Minggu, 07 Januari 2018

Mahmud Hasil: Mutiara Ilmu di Bumi Tambun Bungai




Guru Mahmud Hasil
Rumah itu cukup besar, di sampingnya berdiri sebuah bangunan persegi empat yang biasanya digunakan untuk kegiatan pengajian oleh guru Mahmud Hasil. Mahmud Hasil, pria yang berusia 68 tahun itu bisa dikatakan adalah tuan guru atau ulama yang berdomisili di jl Ramin III no 1. Tepat di samping rumahnya ada bangunan khusus untuk pengajian yang dilaksanakan setiap malam rabu.  Bangunan itu sederhana dengan tulisan “Majelis Ta’lim Ubudiyah” di depannya. Majelis Ta’lim Ubudiyah begitulah orang mengenalnya, adalah salah satu pengajian tertua di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Didirikan tahun 1995 oleh ia sendiri yang dananya dibantu oleh para pengusaha dari Madura. Orang-orang Madura sendiri dikenal mempunyai antusiasme yang tinggi bila ada dari mereka yang menjadi pemuka agama. Nama “Ubudiyah” sendiri diberikan oleh gurunya yang bernama Anang Ramli dari Bati-Bati, setelah ia belajar tasawuf di sana.
 Meskipun ia dilahirkan di Teluk Tiram (Banjarmasin), kedua orang tuanya berasal dari Madura, tepatnya daerah Bangkalan. Pekerjaan sebagai tukang cukur pada masa itu membuat ayahnya berkeinginan untuk pindah ke Banjarmasin hingga memboyong seluruh keluarganya ke sana pada tahun 1946. Di Banjarmasin ia bersekolah seperti anak-anak lain, seperti Sekolah Rakyat (saat itu belum ada SD), lalu melanjutkan ke PGA (sejenis sekolah untuk pendidikan guru agama) selama setahun, dan terakhir ke Pondok Pesantren Darussalam selama 10 tahun.
Kesehariannya sebagai seorang ulama adalah mengisi ceramah atau pengajian di beberapa musholla atau masjid di Palangkaraya, seperti di kompleks Bangas Permai, juga di Jl. Badak. Bahkan, bisa sampai ke luar kota seperti Pangkalanbun, Sampit, Kapuas, Banjarmasin dan lain sebagainya. Di usia yang semakin senja ini, ia membatasi kegiatan di luar kota agar ada waktu untuk bisa beristirahat. Apabila awalnya ia bisa dua kali sebulan ke luar kota untuk mengisi pengajian, sekarang hanya bisa satu bulan sekali atau dua bulan sekali.
Ilmu yang ia ajarkan dalam pengajiannya adalah ilmu “Hakikatul Insan” yaitu sebuah jalan yang mengajarkan bahwa sebenar-benar manusia pada hakikatnya dari pada Nur Muhammad SAW. Pengalaman yang didapat ia dari menuntut ilmu di Pondok Pesantren Darussalam selama 10 tahun memberikan ia pengalaman menuntut ilmu kepada ulama-ulama terkemuka saat itu. Ilmu yang ia dapat membuat ia ingin mengajarkannya juga kepada orang lain.
Sebelum berdiri majelis seperti sekarang ini, awalnya ia membuka pengajian di rumah ia sendiri. Seiring dengan bertambahnya murid ia, ia tidak bisa lagi menampung jumlah muridnya yang semakin banyak. Lalu ia membangun majelis yang sekarang ada tepat di samping rumahnya.
Sebagai seorang tokoh agama, ia selalu membuka pintu rumahnya untuk masyarakat yang ingin bertanya perihal agama. Kebanyakan mereka yang bertamu ke rumah adalah murid-muridnya yang ingin membahas lebih lanjut perihal isi dari pengajiannya. Mereka bisa sampai menginap disana, bahkan jika yang menginap lebih dari 10 orang ia suruh untuk tidur di ruang pengajian. Untuk kebutuhan seperti buang hajat dan mandi telah ia sediakan 2 kamar mandi dan wc. Karena menjaga kesehatannya, biasanya waktu pengajian tidak menentu pada jam berapa berakhir. Kadang, baru setengah jam memulai pengajian ia harus permisi pada jamaahnya kembali ke rumah untuk berisitrahat. Dan hal itu sering terjadi dan mereka memakluminya.
Seorang Pengarang Kitab
            Selain mengisi pengajian, ia juga mengarang beberapa kitab yang telah melalang buana ke pelosok pulau Kalimantan. Bahkan, sampai ke Jawa dan Sumatera. Kitab pertamanya adalah Simpanan  Berharga, yang berisi tentang “Hakikatul Insan” untuk menjadi sebenar-benarnya manusia. Kitab yang kedua adalah Sarantang Saruntung berisi tentang tiga tasawuf yaitu, tasawuf Syar’iyyin, tasawuf mutakallimin dan tasawuf muhaqqiqin. Kitab yang terakhir adalah Waja Sampai Kaputing berisi tiga hal, yaitu Fiqih, Tasawuf Mutasowifin, dan Tasawuf Muhaqqiqin dalam mazhab imam Syafi’i. menurut ia alasan untuk mengarang kitab-kitab tersebut untuk menghadapi kondisi zaman yang sekarang. “ya…. pastinya untuk keselamatan umat lah, dan juga memang ada permintaan dari jama’ah majelis saya ini untuk mengarang kitab agar ilmu yang mereka dapat bisa diajarkan juga ke orang lain” ujarnya.
Kitab-kirab karangannya berukuran cukup besar dan tebal. Ia menjualnya dengan kisaran harga 100 ribu rupiah ke atas. “Kalau kitab simpanan berharga dan kitab sarantang saruntung dulu harganya 125.000, kalau di toko harganya bisa mencapai 130.000, toko-toko di Banjar dan Martapura. kalau di sini sekarang saya jual 150.000 per kitab, di toko pun begitu” ia menjelaskan. Hasil dari penjualan itu, digunakannya untuk menggaji guru-guru di pesantren Sunan Jati, yang juga ia sebagai ketua yayasannya.
“Pesantren Sunan Jati” begitulah orang mengenalnya. Awalnya adalah sebuah pembelajaran mengaji untuk anak-anak setingkat SD dan SMP yang dilakukan di ruang Majelis Ta’lim Ubudiyah pada tahun 1998. Selain mengajarkan mengaji, ia juga mengajarkan beberapa pengetahuna tentang Tauhid dan Fiqih. Ketika terjadi kerusuhan di Palangkaraya pada tahun 2004, ia dan keluarganya pindah sementara ke daerah lain, sehingga sempat terjadi kevakuman pembelajaran. Setelah kerusuhan telah reda, ia dan keluarganya kembali ke Palangkaraya dan meneruskan pembelajaran tadi. murid-muridnya yang belajar padanya diketahui tidak lebih dari 10 orang. Pada tahun 2009 Pesantren Sunan Jati diresmikan dan kegiatan belajar-mengajar disana juga dibantu oleh anak dan murid-muridnya yang sudah matang ilmu agamanya. Mata pelajaran yang diajarkan sekarang yaitu Sharaf, Hadits, Tauhid, dan Fiqih. Untuk pengajaran mengaji bagi anak kelas 1 setingkat SD diajarkan Iqro, dan kelas 2 dan 3 nya sudah belajar Al-Qur’an.
Untuk kitab Waja Sampai Kaputing belum ditentukan harganya. Karena, ia baru selesai mengarangnya pada pertengahan bulan Desember tadi. jadi, masih dalam proses percetakan dan telah dipesan kurang lebih seribu buah. “Insya Allah kalau sudah selesai akan dikirim ke sini” ujarnya.
Kitab pertamanya cukup digemari oleh kalangan para santri dan ustadz. Pembahasan yang ada dalam kitabnya itu bisa dikatakan sulit untuk ditemui dalam kitab-kitab lain, sehingga banyak yang pernah belajar darinya meminta berguru lagi biar lebih mantap. Dan juga minta izin (Ijazah) untuk mengajarkannya ke orang lain. kitab ia ini juga diakui oleh ulama-ulama dari luar pulau Kalimantan, bahkan luar negeri. “Kitab ini (Simpanan Berharga) juga pernah dibawa ke Hadramaut dan dikatakan shahih oleh para habaib dan ulama di sana” ujar ia.
Tidak puas hanya dengan beberapa kitab itu saja, ia berkeinginan untuk mengarang kitab lain sesuai kondisi zaman yang akan datang. “Ya ada, nanti insya Allah tiga tahun lagi. Rencananya setelah mengajarkan kitab-kitab yang ada ini, saya akan mengarang kitab lain sesuai dengan kondisi umat yang akan datang, serta jika ada umur dan kemauan” ungkapnya dengan tulus.
Pengabdian seorang Mahmud Hasil sebagai ulama kadang tidak terlalu diperhatikan oleh masyarakat Palangkaraya sendiri. Hal itu disebabkan karena seringnya masyarakat di sini yang berpatokan pada ulama-ulama dari luar kota dan tidak menyadari bahwa ada mutiara ilmu yang selalu memancarkan ilmunya di Bumi Tambun Bungai ini.                                                      
          


Tentang Penulis: Jacky Zakaria lahir di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 21 November 1996. Lulusan Madrasah Ibtidayah Swasta NU (2009) ini lalu melanjukan pendidikannyaa selama 6 tahun di Pondok Pesantren Darul Hijrah Putra (2015). Sekarang menempuh pendidikan S1 nya di IAIN Palangkaraya, Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, Program Studi Sejarah Peradaban Islam. Sebagai seorang mahasiswa, ia pernah menjabat sebagai ketua HMJ Adab (periode 2016-2017). Dan berperan aktif dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, Komisariat IAIN Palangkaraya. Mahasiswa pengangguran yang satu ini mengisi hari-harinya di luar waktu perkuliahan dengan membaca karya-karya Habiburrahman El-Shirazy, Prie G.S, Tere Liye dan lainnya. Email: zakinorton23@gmail.com. Telepon: (0852) 4712 0449.