![]() |
| Guru Mahmud Hasil |
Meskipun ia dilahirkan di Teluk Tiram
(Banjarmasin), kedua orang tuanya berasal dari Madura, tepatnya daerah
Bangkalan. Pekerjaan sebagai tukang cukur pada masa itu membuat ayahnya
berkeinginan untuk pindah ke Banjarmasin hingga memboyong seluruh keluarganya
ke sana pada tahun 1946. Di Banjarmasin ia bersekolah seperti anak-anak lain,
seperti Sekolah Rakyat (saat itu belum ada SD), lalu melanjutkan ke PGA
(sejenis sekolah untuk pendidikan guru agama) selama setahun, dan terakhir ke
Pondok Pesantren Darussalam selama 10 tahun.
Kesehariannya sebagai
seorang ulama adalah mengisi ceramah atau pengajian di beberapa musholla atau
masjid di Palangkaraya, seperti di kompleks Bangas Permai, juga di Jl. Badak.
Bahkan, bisa sampai ke luar kota seperti Pangkalanbun, Sampit, Kapuas,
Banjarmasin dan lain sebagainya. Di usia yang semakin senja ini, ia membatasi
kegiatan di luar kota agar ada waktu untuk bisa beristirahat. Apabila awalnya ia
bisa dua kali sebulan ke luar kota untuk mengisi pengajian, sekarang hanya bisa
satu bulan sekali atau dua bulan sekali.
Ilmu yang ia
ajarkan dalam pengajiannya adalah ilmu “Hakikatul Insan” yaitu sebuah jalan
yang mengajarkan bahwa sebenar-benar manusia pada hakikatnya dari pada Nur
Muhammad SAW. Pengalaman yang didapat ia dari menuntut ilmu di Pondok Pesantren
Darussalam selama 10 tahun memberikan ia pengalaman menuntut ilmu kepada
ulama-ulama terkemuka saat itu. Ilmu yang ia dapat membuat ia ingin
mengajarkannya juga kepada orang lain.
Sebelum
berdiri majelis seperti sekarang ini, awalnya ia membuka pengajian di rumah ia
sendiri. Seiring dengan bertambahnya murid ia, ia tidak bisa lagi menampung
jumlah muridnya yang semakin banyak. Lalu ia membangun majelis yang sekarang
ada tepat di samping rumahnya.
Sebagai
seorang tokoh agama, ia selalu membuka pintu rumahnya untuk masyarakat yang
ingin bertanya perihal agama. Kebanyakan mereka yang bertamu ke rumah adalah
murid-muridnya yang ingin membahas lebih lanjut perihal isi dari pengajiannya.
Mereka bisa sampai menginap disana, bahkan jika yang menginap lebih dari 10
orang ia suruh untuk tidur di ruang pengajian. Untuk kebutuhan seperti buang
hajat dan mandi telah ia sediakan 2 kamar mandi dan wc. Karena menjaga
kesehatannya, biasanya waktu pengajian tidak menentu pada jam berapa berakhir.
Kadang, baru setengah jam memulai pengajian ia harus permisi pada jamaahnya
kembali ke rumah untuk berisitrahat. Dan hal itu sering terjadi dan mereka
memakluminya.
Seorang Pengarang Kitab
Selain
mengisi pengajian, ia juga mengarang beberapa kitab yang telah melalang buana
ke pelosok pulau Kalimantan. Bahkan, sampai ke Jawa dan Sumatera. Kitab pertamanya
adalah Simpanan Berharga, yang
berisi tentang “Hakikatul Insan” untuk menjadi sebenar-benarnya manusia. Kitab
yang kedua adalah Sarantang Saruntung berisi tentang tiga tasawuf yaitu,
tasawuf Syar’iyyin, tasawuf mutakallimin dan tasawuf muhaqqiqin. Kitab yang
terakhir adalah Waja Sampai Kaputing berisi tiga hal, yaitu Fiqih,
Tasawuf Mutasowifin, dan Tasawuf Muhaqqiqin dalam mazhab imam Syafi’i. menurut ia
alasan untuk mengarang kitab-kitab tersebut untuk menghadapi kondisi zaman yang
sekarang. “ya…. pastinya untuk keselamatan umat lah, dan juga memang ada
permintaan dari jama’ah majelis saya ini untuk mengarang kitab agar ilmu yang
mereka dapat bisa diajarkan juga ke orang lain” ujarnya.
Kitab-kirab
karangannya berukuran cukup besar dan tebal. Ia menjualnya dengan kisaran harga
100 ribu rupiah ke atas. “Kalau kitab simpanan berharga dan kitab sarantang
saruntung dulu harganya 125.000, kalau di toko harganya bisa mencapai 130.000,
toko-toko di Banjar dan Martapura. kalau di sini sekarang saya jual 150.000 per
kitab, di toko pun begitu” ia menjelaskan. Hasil dari penjualan itu,
digunakannya untuk menggaji guru-guru di pesantren Sunan Jati, yang juga ia
sebagai ketua yayasannya.
“Pesantren
Sunan Jati” begitulah orang mengenalnya. Awalnya adalah sebuah pembelajaran
mengaji untuk anak-anak setingkat SD dan SMP yang dilakukan di ruang Majelis
Ta’lim Ubudiyah pada tahun 1998. Selain mengajarkan mengaji, ia juga
mengajarkan beberapa pengetahuna tentang Tauhid dan Fiqih. Ketika terjadi
kerusuhan di Palangkaraya pada tahun 2004, ia dan keluarganya pindah sementara
ke daerah lain, sehingga sempat terjadi kevakuman pembelajaran. Setelah
kerusuhan telah reda, ia dan keluarganya kembali ke Palangkaraya dan meneruskan
pembelajaran tadi. murid-muridnya yang belajar padanya diketahui tidak lebih
dari 10 orang. Pada tahun 2009 Pesantren Sunan Jati diresmikan dan kegiatan
belajar-mengajar disana juga dibantu oleh anak dan murid-muridnya yang sudah
matang ilmu agamanya. Mata pelajaran yang diajarkan sekarang yaitu Sharaf,
Hadits, Tauhid, dan Fiqih. Untuk pengajaran mengaji bagi anak kelas 1 setingkat
SD diajarkan Iqro, dan kelas 2 dan 3 nya sudah belajar Al-Qur’an.
Untuk kitab Waja
Sampai Kaputing belum ditentukan harganya. Karena, ia baru selesai
mengarangnya pada pertengahan bulan Desember tadi. jadi, masih dalam proses
percetakan dan telah dipesan kurang lebih seribu buah. “Insya Allah kalau sudah
selesai akan dikirim ke sini” ujarnya.
Kitab pertamanya
cukup digemari oleh kalangan para santri dan ustadz. Pembahasan yang ada dalam
kitabnya itu bisa dikatakan sulit untuk ditemui dalam kitab-kitab lain,
sehingga banyak yang pernah belajar darinya meminta berguru lagi biar lebih
mantap. Dan juga minta izin (Ijazah) untuk mengajarkannya ke orang lain.
kitab ia ini juga diakui oleh ulama-ulama dari luar pulau Kalimantan, bahkan
luar negeri. “Kitab ini (Simpanan Berharga) juga pernah dibawa ke
Hadramaut dan dikatakan shahih oleh para habaib dan ulama di sana” ujar ia.
Tidak puas
hanya dengan beberapa kitab itu saja, ia berkeinginan untuk mengarang kitab
lain sesuai kondisi zaman yang akan datang. “Ya ada, nanti insya Allah tiga
tahun lagi. Rencananya setelah mengajarkan kitab-kitab yang ada ini, saya akan
mengarang kitab lain sesuai dengan kondisi umat yang akan datang, serta jika
ada umur dan kemauan” ungkapnya dengan tulus.
Pengabdian
seorang Mahmud Hasil sebagai ulama kadang tidak terlalu diperhatikan oleh
masyarakat Palangkaraya sendiri. Hal itu disebabkan karena seringnya masyarakat
di sini yang berpatokan pada ulama-ulama dari luar kota dan tidak menyadari
bahwa ada mutiara ilmu yang selalu memancarkan ilmunya di Bumi Tambun Bungai
ini.
Tentang Penulis: Jacky Zakaria
lahir di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 21 November 1996. Lulusan
Madrasah Ibtidayah Swasta NU (2009) ini lalu melanjukan pendidikannyaa selama 6
tahun di Pondok Pesantren Darul Hijrah Putra (2015). Sekarang menempuh
pendidikan S1 nya di IAIN Palangkaraya, Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah,
Program Studi Sejarah Peradaban Islam. Sebagai seorang mahasiswa, ia pernah
menjabat sebagai ketua HMJ Adab (periode 2016-2017). Dan berperan aktif dalam
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, Komisariat IAIN Palangkaraya. Mahasiswa
pengangguran yang satu ini mengisi hari-harinya di luar waktu perkuliahan dengan
membaca karya-karya Habiburrahman El-Shirazy, Prie G.S, Tere Liye dan lainnya. Email:
zakinorton23@gmail.com. Telepon:
(0852) 4712 0449.

Casino near me - Mapyro
BalasHapusCasino near me, The 제주 출장샵 Strip. 제주도 출장안마 Mapyro is the 청주 출장마사지 area's top entertainment 군포 출장안마 destination and it offers plenty of entertainment. The casino's 3,600 slot 부산광역 출장마사지 machines provide