Halaman

Senin, 29 Oktober 2018

Resensi Film Les Miserables




              
               Les Miserables adalah film drama musical yang diadaptasi dari novel kenamaan karya Victor Hugo, diterbitka pertama kali pada tahun 1862. Sebelumnya novel ini telah beberapa kali dibuat versi filmnya. Tetapi, pada film yang terakhir lebih sukses dan lebih berkesan. Film ini sendiri dirilis pada 7 December 2012. 

                Film ini mengambil tema 20 tahun semenjak dimulainya revolusi Perancis, mengisahkan seorang narapidana yang dibebaskan bernama Jean Valjean setelah dipenjara selama 19 tahun karena mencuri sepotong roti untuk keponakannya yang kelaparan. Hukumannya awalnya hanya 5 tahun saja, tapi menjadi berlipat-lipat karena berusaha melarikan diri dan melawan saat pelariannya.
                
                Les Miserables sendiri berasal dari bahasa Perancis, artinya orang-orang yang malang. Film ini mempunyai durasi yang cukup lama, yaitu 2 jam 38 menit. Bagi seseorang yang tidak pernah melihat pertunjukan drama musikal, mungkin akan terasa aneh jika menonton film ini. Karena, seluruh dialog yang ada pada film ini menggunakan musik seperti pertunjukkan musikal. Saat proses syuting film ini, para pemain menyanyikan dialog yang ada secara live (langsung), dengan mengikuti irama piano yang dimainkan diluar scene tempat yang berbeda. Para pemeran menggunakan sejenis earphone kecil yang dipasang ditelinga agar bisa mengikuti irama musik dan menyeleraskannya.

                   Cerita dalam film ini mengisahkan kehidupan Jean Valjean. Yang diawali pembebasannya dari penjara, sebagai pembebasan bersyarat. Pembebasan bersyarat merupakan sesuatu yang memalukan saat itu di Perancis. Orang bebas bersyarat membawa surat dari kepolisian Perancis sebagai tanda seseorang yang dianggap berbahaya, dan diwajibkan melaporkan dirinya satu bulan sekali. 

                

            Hal itu membuat Jean susah mencari pekerjaan, apalagi menafkahi dirinya sendiri. Jean lalu mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mencari tempat tinggal. Namun, masyarakat menolaknya hingga suatu hari ia bisa tinggal di sebuah gereja katolik milik pastor Mabeuf. Sang pastor memberikan makanan dan tempat untuknya tinggal. Tapi, Jean yang gelap hati mencuri peralatan-peralatan gereja yang terbuat dari perak untuk dijualnya. Perbuatan Jean terungkap ketika para polisi menangkapnya dan menyerahkannya kepada pastor. Pastor yang mengetahui itu mencoba menolongnya dengan mengatakan bahwa semua barang itu diberikannya secara sukarela. Jean yang mendengar itu tergugah hatinya dan mengakui kesalahannya. Hingga ia bertobat dan berjanji akan menjadi hamba Tuhan yang baik.

              Beberapa tahun kemudian keadaan berubah. Jean yang dulunya orang biasa kini telah menjadi seorang yang mapan dan terkenal. Ia mempunyai pabrik sendiri dengan buruh yang banyak. Ia telah berubah dari seorang narapidana menjadi seorang walikota yang disegani, dikenal oleh orang-orang sekitarnya dengan nama Monsieur Madeleine. Ia menyembunyikan identitas aslinya dari kejaran polisi. Keadaan Perancis saat itu sangat kumuh, para tunawisma bertebaran di jalanan meminta belas kasih dan makanan. Semua orang harus berjuang untuk bertahan hidup jika ingin bertahan hidup esok harinya. Salah satu buruh dari pabrik Jean, Fantine, seorang ibu yang harus menghidupi anak perempuannya, Cosette. Mendapatkan diskriminasi dari sesama pekerja sehingga diusir dari pabrik, dan hidup tanpa tujuan kecuali demi putrinya tercinta, hal itu tidak diketahui oleh Jean. 

                Salah satu cara untuk bertahan hidup yang dilakukan Fantine adalah mencadi pelacur. Ia menjadi pemuas nafsu pria di dermaga tua beserta wanita lainnya. Bahkan demi putrinya, ia rela menyerahkan giginya serta rambutnya untuk dijual dengan harga beberapa franc. Suatu hari Fantine mendapat perlakuan buruk dari pelanggannya, hingga ia harus dilarikan di rumah sakit. Untunglah saat itu Jean lewat dan mengetahui hal itu, ia langsung membawa Fantine ke rumah sakit. Jean tidak tahu bahwa Fantine adalah salah satu pekerja di pabriknya, ia sangat merasa bersalah. Ia berjanji akan menebus kesalahannya dengan menjemput Cosette dan merawatnya. 

              Keadaan Cosette tidak seperti anak-anak kebanyakan. Di usianya yang belia ia menjadi pembantu di keluarga Thenardier. Tuan dan nyonya Thenardier menyewakan penginapan bagi orang-orang, sekaligus penipu ulung dan mata duitan. Putri mereka, Eponine sangat dimanjakan. Jean bisa menebus Cosette dari keluarga Thenardier dan membawanya pulang bersamanya. Ia mengatakan bahwa Cosette akan menjadi putrinya dan merawatnya dengan sepenuh hati.
Masalah semakin rumit ketika seseorang inspektur yang bernama Javert mengetahui bahwa walikota Madeleine selama ini adalah Jean Valjean, mantan narapidana yang selalu diburunya. Maka terjadilah pengejaran kepada Jean. Jean harus berpindah tempat untuk menghindari kejaran Javert sambil mengasuh Cosette.

              Beberapa tahun kemudian Cosette tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita. Jean yang selama ini merawatnya khawatir jika Cosette menemukan pria yang akan menjadi calon suaminya dan meninggalkannya karena Jean adalah mantan narapidana yang hina.

                Pemberontakan mulai terjadi di Perancis, rakyat sipil mulai merencanakan revolusi. Mereka sudah muak dengan pemerintahan yang merugikan rakyat. Di barisan pemberontak tersebutlah seorang pemuda yang bernama Marius, Marius adalah keturunan bangsawan. Tapi, ia mendukung rakyat Perancis. Marius menjalin kisah cinta dengan Cosette. Cinta ini bisa dikatakan cinta segitiga, ada seorang wanita lain yang mencinta Marius, yaitu Eponine. Marius hanya menganggap Eponine sebagai teman saja. 

               Perseteruan Javert dan Jean masih berlanjut, hingga suatu hari Javert berhenti mengejar Jean. Sebagai balas budi atas Jean yang telah membebaskan Javert dari penyanderaan pasukan pemberontak. Saat peperangan berlangsung, Marius yang saat itu sebagai pemberontak, bisa selamat dari perang atas kebaikan Jean yang telah menyelamatkannya dari pasukan tentara kerajaan. Jean berniat menyatukan Marius dan Cosette yang terpisah sebagai upaya terakhirnya untuk membahagiakan Cosette. That's All

by: Jacobsky

Tidak ada komentar:

Posting Komentar